Kamis, 14 November 2013

abstrak

PENGARUH PENAMBAHAN AIR KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MIKRO TANAMAN KENTANG
 ( Solanum tuberosum L ) SECARA IN VITRO

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Sains
Jurusan Biologi pada Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Alauddin Makassar

Oleh :
M U S T A K I M
NIM. 60300108008





FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2012








 ABSTRACT
Compiler Name          : Mustakim
Nim                             : 60300108008
Title of Minithesis       : “ The Influence of Adding Coconut Water in Micro Stek Potato Plant Growth (Solanum tuberosum L.) In Vitro”.
The step of antitipation acquirement need potato seed up to standart quality that to do  many manner in vitro, that to be used Murashige dan Skoog (MS) medium. This research aims to know the best concentration of coconut water of growing potato in vitro and the treatment which of to supply influence the best.
The research to started on date 27 march 2013 and to the end on date 29 april 2013 in Botany Laboratory, Science and Technology faculty UIN Alauddin Makassar. This experimental research is arranged by Completely Randomized Design one factor that is by adding coconut water through four treatments such as control, 50 ml/l, 100 ml/l, and 150 ml/l.  Parameter observation is the best forming of roots, forming of leaves, heigh of planlet, and weigh of planlet.
The data was analized using variants analysis (test- F) at level α 0,05. Next used BNJ test. The research shows that adding coconut water with concentration 150 ml/l give result the best forming of roots, forming of leaves, heigh of planlet, and weigh of planlet.


Keyword: Growth, Solanum tuberosum L., coconut water, MS media, stek.


Rabu, 13 November 2013

Kultur


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Saat ini kentang menjadi komoditas penting yang diprioritaskan di Indonesia setelah jagung dan kedelai  (Direktorat Pengembangan Potensi Daerah BKPM, 2013). Pengembangan kentang melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi di sentra-sentra produksi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, dan Sulawesi Selatan (Rukmana, 2000, 5).
Konsumsi  kentang di Indonesia pada tahun 2003 sebesar 1,61 kg/tahun, tahun 2004 meningkat menjadi 1,82 kg/tahun dan berturut-turut pada tahun 2005 dan 2006 menjadi 1,92 kg/tahun dan 1,66 kg/tahun. Hal ini terjadi juga pada volume ekspor yang tiap tahun terjadi peningkatan. Volume ekspor pada tahun 2003 sebesar 19,012,711 kg, tahun 2005 meningkat menjadi 25,693,792 kg, dan tahun 2006 volume ekspor juga meningkat menjadi 97,657,771 kg. Produksi kentang di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 1 juta ton yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 0,08 juta ton (Departemen Pertanian, 2012).
Keterbatasan jumlah penangkar benih kentang sehingga menyebabkan rendahnya produktivitas  yang mengakibatkan kebutuhan benih kentang belum dapat tercukupi. Lebih lanjut, hal ini mengakibatkan intensifikasi budi daya kentang tidak dapat dilaksanakan dengan baik sehingga produktivitas lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas potensial (Yuwono, 2006, 32).
Selain itu, sebagian besar petani menggunakan benih umbi kentang dari generasi lanjutan, yaitu hasil panen yang sengaja disisihkan atau sengaja disimpan untuk dimanfaatkan sebagai benih. Kondisi tersebut disebabkan oleh mahalnya harga benih kentang bermutu, sementara harga kentang konsumsi relatif rendah, sehingga petani kurang mampu membeli benih kentang bermutu. Bahkan  seringkali benih kentang belum cukup tersedia di lapangan pada waktu diperlukan oleh petani (Asaad, 2012, 1).
Untuk mendukung pengembangan komoditas kentang di Indonesia, diperlukan benih yang berkualitas dan bebas patogen.. Benih dengan sifat unggul tersebut dapat diperoleh melalui kultur jaringan disertai dengan pengujian patogen secara intensif (Hartus, 2001, 33).
Teknik kultur jaringan merupakan metode pengisolasian bagian dari tanaman, seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan, dan organ, kemudian menumbuhkannya dalam kondisi aseptik sehingga bagian tanaman tersebut  dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap (Gunawan,2002,6).
Manfaat lain dari teknik kultur jaringan yakni menghasilkan tanaman yang bebas dari penyakit, dan dalam waktu yang relatif singkat akan mendapatkan tanaman yang banyak. Salah satu tahapan penting pada pelaksanaan teknik kultur jaringan adalah persiapan media. Media tumbuh kultur jaringan mengandung unsur - unsur penting berupa garam-garam mineral, sukrosa, vitamin, dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Bahan- bahan tersebut merupakan bahan esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ( Gunawan, 2002, 6).
Air kelapa yang volumenya berkisar antara 25 persen dari komponen buah kelapa. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kelapa muda kandungannya adalah air sebanyak 95,5 %, protein 0,1 %, lemak kurang dari 0,1 %, karbohidrat 4 %, dan abu 0,4 %. Air kelapa muda  juga mengandung vitamin C dan vitamin B komplek yang terdiri atas asam nikotinat, asam pantotenat, biotin, asam folat, vitamin B1 dan sedikit piridoksin serta sejumlah mineral antara lain kalium, natrium, kalsium,magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur (Setyamidjaya, 1991,5).
Hasil penelitian yang dilakukan Pisesha (2008) menunjukkan bahwa pemberian air kelapa 10 % pada media MS dapat mendorong pembentukan dan pemanjangan akar serta planlet lebih cepat pertumbuhannya. Ini terlihat dari warna daun hijau gelap, dengan ukuran yang lebih lebar dan banyaknya akar.
Menurut  Prihatmanti dan Mattjik (2004) bahwa penggunaan bahan alami air kelapa pada konsentrasi 100 sampai 200 ml/l untuk multiplikasi tunas Anthurium andreanum dapat meningkatkan daya tumbuh biakan in vitro. Bey dkk (2006) mengemukakan bahwa perlakuan air kelapa secara tunggal pada konsentrasi 250 ml/l mampu menghasilkan daun dan akar lebih cepat pada kultur in vitro anggrek (Phalaenopsis amabilis BL). Perlakuan dengan menggunakan air kelapa muda memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan jamur tiram putih Pleurotus ostreatus  (Armawi, 2011,2).
Sehubungan dengan manfaat air kelapa tersebut, Allah SWT telah berfirman bahwasanya ada air yang bermanfaat yakni dalam al-Qur’an surat al Qaaf: 9 yang berbunyi:
$uZø9¨tRur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB %Z.t»t6B $uZ÷Gu;/Rr'sù ¾ÏmÎ/ ;M»¨Zy_ ¡=ymur ÏŠÅÁptø:$# ÇÒÈ

Terjemahnya:
“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan air dari langit yang memiliki manfaat yang begitu banyak. Salah satu diantara manfaat air adalah ditumbuhkannya tanaman. Dengan air, unsur hara yang terdapat di dalam tanah akan larut dan memudahkan tanaman melakukan penyerapan unsur-unsur hara tersebut. Dengan demikian tanaman tersebut dapat tumbuh dan berkembang.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas tentang penggunaan air kelapa sebagai komposisi tambahan pada medium kultur jaringan pada beberapa tanaman, maka penelitian tentang pengaruh penambahan air kelapa terhadap pertumbuhan tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) secara in vitro perlu dilakukan.