BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Saat ini kentang menjadi komoditas
penting yang diprioritaskan di Indonesia setelah jagung dan kedelai (Direktorat Pengembangan
Potensi Daerah BKPM, 2013).
Pengembangan kentang melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi di
sentra-sentra produksi di
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, dan
Sulawesi Selatan (Rukmana, 2000, 5).
Konsumsi
kentang di Indonesia pada tahun 2003 sebesar 1,61 kg/tahun, tahun 2004
meningkat menjadi 1,82 kg/tahun dan berturut-turut pada tahun 2005 dan 2006
menjadi 1,92 kg/tahun dan 1,66 kg/tahun. Hal ini terjadi juga pada volume
ekspor yang tiap tahun terjadi peningkatan. Volume ekspor pada tahun 2003
sebesar 19,012,711 kg, tahun 2005 meningkat menjadi 25,693,792 kg, dan tahun
2006 volume ekspor juga meningkat menjadi 97,657,771 kg. Produksi kentang di
Indonesia pada tahun 2007 mencapai 1 juta ton yang mengalami penurunan dari
tahun sebelumnya sebesar 0,08 juta ton (Departemen Pertanian, 2012).
Keterbatasan jumlah penangkar benih
kentang sehingga menyebabkan rendahnya produktivitas yang
mengakibatkan
kebutuhan benih kentang belum dapat tercukupi. Lebih lanjut, hal ini mengakibatkan intensifikasi
budi daya kentang tidak dapat dilaksanakan dengan baik sehingga produktivitas
lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas potensial
(Yuwono, 2006, 32).
Selain itu, sebagian besar petani menggunakan benih
umbi kentang dari generasi lanjutan, yaitu hasil panen yang sengaja disisihkan
atau sengaja disimpan untuk dimanfaatkan sebagai benih. Kondisi tersebut
disebabkan oleh mahalnya harga benih kentang bermutu, sementara harga kentang
konsumsi relatif rendah, sehingga petani kurang mampu membeli benih kentang
bermutu. Bahkan seringkali benih kentang belum cukup tersedia
di lapangan pada waktu diperlukan oleh petani (Asaad, 2012, 1).
Untuk
mendukung pengembangan komoditas kentang di Indonesia, diperlukan benih yang berkualitas dan bebas patogen.. Benih dengan sifat unggul tersebut dapat
diperoleh melalui kultur jaringan disertai dengan pengujian patogen secara
intensif (Hartus, 2001, 33).
Teknik
kultur jaringan merupakan metode pengisolasian bagian dari tanaman, seperti
protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan, dan organ, kemudian menumbuhkannya
dalam kondisi aseptik sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi
menjadi tanaman lengkap (Gunawan,2002,6).
Manfaat
lain dari teknik kultur jaringan yakni menghasilkan tanaman yang bebas dari
penyakit, dan dalam waktu yang relatif singkat akan mendapatkan tanaman yang
banyak. Salah satu tahapan
penting pada pelaksanaan teknik kultur jaringan adalah persiapan
media. Media tumbuh
kultur jaringan mengandung
unsur - unsur penting berupa garam-garam mineral, sukrosa, vitamin, dan zat
pengatur tumbuh (ZPT). Bahan- bahan tersebut merupakan bahan esensial untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman ( Gunawan, 2002, 6).
Air kelapa yang volumenya berkisar antara 25 persen dari
komponen buah kelapa. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kelapa muda
kandungannya adalah air sebanyak 95,5 %, protein 0,1 %, lemak kurang dari 0,1
%, karbohidrat 4 %, dan abu 0,4 %. Air kelapa muda juga mengandung vitamin C dan vitamin B
komplek yang terdiri atas asam nikotinat, asam pantotenat, biotin, asam folat,
vitamin B1 dan sedikit piridoksin serta sejumlah mineral antara lain kalium,
natrium, kalsium,magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur (Setyamidjaya,
1991,5).
Hasil
penelitian yang dilakukan Pisesha (2008) menunjukkan bahwa pemberian air kelapa
10 % pada media MS dapat mendorong pembentukan dan pemanjangan akar serta
planlet lebih cepat pertumbuhannya. Ini terlihat dari warna daun hijau gelap,
dengan ukuran yang lebih lebar dan banyaknya akar.
Menurut Prihatmanti dan Mattjik (2004) bahwa penggunaan bahan alami air kelapa
pada konsentrasi 100 sampai 200 ml/l untuk multiplikasi tunas Anthurium
andreanum dapat meningkatkan daya tumbuh biakan in vitro. Bey dkk
(2006) mengemukakan bahwa perlakuan air kelapa
secara tunggal pada konsentrasi 250 ml/l mampu menghasilkan daun dan akar lebih
cepat pada kultur in vitro anggrek (Phalaenopsis amabilis BL). Perlakuan dengan menggunakan air kelapa
muda memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan jamur tiram putih Pleurotus
ostreatus (Armawi, 2011,2).
Sehubungan dengan manfaat air kelapa tersebut, Allah SWT telah
berfirman bahwasanya ada air yang bermanfaat yakni dalam al-Qur’an
surat al Qaaf: 9 yang berbunyi:
$uZø9¨tRur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB %Z.t»t6B $uZ÷Gu;/Rr'sù ¾ÏmÎ/ ;M»¨Zy_ ¡=ymur ÏÅÁptø:$# ÇÒÈ
Terjemahnya:
“Dan Kami
turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu
pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan
air dari langit yang memiliki manfaat yang begitu banyak. Salah satu diantara
manfaat air adalah ditumbuhkannya tanaman. Dengan air, unsur hara yang terdapat
di dalam tanah akan larut dan memudahkan tanaman melakukan penyerapan
unsur-unsur hara tersebut. Dengan demikian tanaman tersebut dapat tumbuh dan
berkembang.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas tentang
penggunaan air kelapa sebagai komposisi tambahan pada medium kultur jaringan
pada beberapa tanaman, maka penelitian
tentang pengaruh penambahan air kelapa terhadap pertumbuhan tanaman kentang (Solanum
tuberosum L.) secara in vitro perlu dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar